Dosen Unej ini Kembangkan Penelitian Pohon Paku Jadi Obat Kanker
JEMBER – Fuad Bahrul Ulum salah satu dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej) melanjutkan penelitian terhadap potensi pohon paku purba sebagai bahan baku obat. Ditengarai tanaman tersebut mengandung kadar antioksidan cukup tinggi dan berguna untuk pengibatan kanker.
Ia mengatakan, jika dirinya memiliki ketertarikan tersendiri untuk melakukan penelitian terhadap tumbuhan yang menjulang tinggi tersebut dikarenakan masih minim penelitian terhadao tumbuhan rersebut.

“Saya optimis paku pohon punya potensi sebagai bahan baku obat. Saat meneliti di lapangan saya menemukan masyarakat sekitar hutan dimana paku pohon tumbuh, memanfaatkan getah tunas muda paku pohon sebagai obat penumbuh rambut yang diyakini mujarab. Ini salah satu contoh potensinya sebagai bahan baku obat,” jelas Doktor lulusan Gottingen University Jerman tersebut belum lama ini.
Selain potensi sebagai bahan baku obat, keberadaan tumbuhan paku dari marga Cyathea ini menjadi tanda lingkungan sekitarnya masih terjaga dengan baik. Sebab paku pohon yang dapat tumbuh di ketinggian mulai 600 Mdpl hingga 1.200 Mdpl memerlukan pohon pelindung yang kemudian membentuk kanopi. Jadi, jika paku pohon tumbuh subur, bisa dipastikan lingkungan sekitarnya memiliki rimbunan pohon dan memiliki kecukupan sumber air.
“Jangan lupa, paku pohon menjadi semacam induk bagi tanaman lainnya, semisal tanaman pakis hingga anggrek,” ungkap Fuad.
Keberadaan paku pohon juga bisa menjadi laboratorium alam bagi kalangan umum yang ingin tahu evolusi atau perkembangan tanaman di bumi. Fuad menjelaskan para ahli biologi mengidentifikasi tanaman pertama di bumi yang tumbuh adalah lumut, dilanjutkan tanaman paku, tumbuhan biji terbuka dan baru akhirnya tumbuhan biji tertutup.
Di dunia diperkirakan ada 400 spesies Cyathea, lima diantaranya ditemukan di Provinsi Jawa Timur. Seperti yang tumbuh di wilayah Erek-erek Geoforest di Banyuwangi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, pegunungan Ijen, serta Gunung Raung.
“Kekayaan alam berupa paku pohon harus kita jaga sebab aset yang berharga, apalagi tumbuhnya tergolong lambat, hanya lima inchi per tahun. Jadi jika ada paku pohon yang setinggi pohon kelapa, seperti di Erek-erek Geoforest di Banyuwangi bisa dibayangkan usianya sudah berapa puluh tahun bahkan mungkin sudah ratusan tahun,” pungkas Fuad. (*/SN)



Post Comment