Berawal Dari Susah Cari Kerja, Winda Antika Sukses Budidaya Melon Premium di Banyuwangi

Berawal Dari Susah Cari Kerja, Winda Antika Sukses Budidaya Melon Premium di Banyuwangi

BANYUWANGI – Sulitnya mendapatkan pekerjaan sesuai bidang justru menjadi titik balik bagi Winda Pebri Antika (25), seorang lulusan Politeknik LPP Yogyakarta, untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki.

Ceritanya bermula setelah Winda lulus pada tahun 2023 dan memilih pulang ke Banyuwangi, Jawa Timur. Dia kemudian mencoba mencari peruntungan dengan mendaftarkan diri ke berbagai lowongan pekerjaan.

“Setelah lulus, saya sempat mencari pekerjaan sesuai bidang di Banyuwangi. Namun, peluangnya susah, terlebih karena saya perempuan dengan latar belakang perkebunan,” kata Winda, Senin (13/4/2026). 

Tidak menyerah pada keadaan, pemilik Win’s Agro yang berlokasi di Desa/Kecamatan Gambiran tersebut kemudian mulai melirik pelatihan-pelatihan gratis yang diberikan pemerintah, salah satunya melalui pelatihan yang digelar Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi pada akhir 2023.

Di pelatihan yang digelar selama 19 hari kerja tersebut, Winda untuk pertama kalinya mengenal budidaya hidroponik, sebuah metode tanam yang bisa dilakukan tanpa menggunakan tanah. 

“Setelah selesai pelatihan, saya membuka usaha greenhouse hidroponik sayur. Awalnya kecil-kecilan ukuran 4×6 meter persegi,” kata Winda.

Usahanya terus berjalan, namun Winda juga enggan diam di tempat. Dia kembali mengikuti berbagai pelatihan gratis yang ada dan belajar berbagai hal, mulai dari cara budidaya, manajemen keuangan hingga pemasaran untuk menunjang perkembangan bisnisnya. 

Dari berbagai pelatihan gratis yang diikutinya, relasi Winda pun semakin luas dan dia mengenal pelaku budidaya hidroponik buah yang kemudian memantapkannya membangun kembali sebuah greenhouse.

“Saya bangun satu greenhouse buah melon premium lagi di Kecamatan Gambiran pada 2024 akhir. Ukurannya 8×15 meter, full saya tanami melon premium hidroponik,” ujarnya.

Kini, Winda yang awalnya gusar karena susahnya peluang kerja, mampu memanfaatkan skill yang ada, menggunakan ilmu dan bakatnya di bidang perkebunan serta kejeliannya memanfaatkan lahan kosong, sehingga mendapatkan penghasilan dari bidang yang disenanginya. 

Inovasi teknologi pun telah diterapkan, mulai dari penggunaan plastik UV dan jaring insect sehingga hama sulit masuk ke area budidaya, dia juga menggunakan irigasi tetes yang telah terintegrasi dengan sistem IoT (Internet of Things) yang memungkinkan treatment tanaman dapat dilakukan dari jarak jauh. 

“Di greenhouse saya juga sudah dilengkapi dengan sensor suhu, kelembaban, dan rain sprinkle,” tuturnya. 

Meski telah berupaya meminimalisasi hama dan kegagalan panen, Winda juga masih menghadapi tantangan lain yaitu saat proses belajar budidaya dan tantangan pemasaran.

Terlebih, melon premium miliknya dijual jauh di atas harga melon pada umumnya. Jika melon biasa di pasaran harganya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, melon premium Winda dijual sekitar Rp 35.000 per kilogram. 

“Saya berani menjual harga tinggi karena saya menjual kualitas dan rasa sangat beda dengan melon konvensional,” katanya.

Post Comment