RSUD IA Moeis Disorot, Tolak Pasien Darurat Kaki Putus Tanpa Penanganan Awal
SAMARINDA – Selasa (24/3/2026) sore itu, suasana di KM 28 Jalan Poros Samarinda-Balikpapan mendadak mencekam. Jarum jam menunjukkan pukul 16.07 WITA ketika sebuah mobil Daihatsu Sigra dengan nomor polisi KT 1927 UE terlibat tabrakan hebat dengan sebuah sepeda motor merah.
Di tengah debu jalanan, seorang pria warga KM 15 tergeletak di bawa jurang dengan luka mengerikan. Proses evakuasi ke badan jalan raya pun mengalami kesulitan. Kaki kanannya putus di bagian mata kaki, hanya menyisakan sedikit jaringan kulit yang membuat telapak kakinya tampak menggantung pilu. Dalam kondisi darurat itu, kepanikan pecah. Sang istri yang berada di lokasi terus memohon agar suaminya segera dilarikan ke rumah sakit.
“Dibawa sudah, istrinya mau cepat-cepat diantar,” tulis Azka, seorang saksi mata melalui pesan singkat di grup WhatsApp koordinasi emergency Desa Batuah.
EVAKUASI MENYAYAT HATI
Namun, kecepatan seringkali tidak berbanding lurus dengan ketepatan penanganan medis. Karena desakan keluarga, korban akhirnya dievakuasi menggunakan mobil double cabin putih yang kebetulan melintas pada pukul 16.13 WITA. Padahal, relawan Pramuka Peduli saat itu tengah memacu unit ambulans menuju lokasi.
Pemandangan selama perjalanan menuju rumah sakit sungguh menyayat hati. Tanpa peralatan medis, luka menganga di kaki korban hanya ditutupi seadanya dengan selembar kardus. Sepanjang jalan, darah segar terus mengucur deras hingga membasahi bak mobil terbuka hingga menetes ke jalan raya sepanjang perjalanan tersebut.
Bustan, Ketua Relawan Siaga Batuah, menyayangkan keputusan evakuasi yang terburu-buru tanpa prosedur medis dasar. Menurutnya, luka separah itu seharusnya ditangani minimal dengan mengembalikan posisi kaki ke letak semula dan dibalut kain bersih untuk menahan pendarahan sembari menunggu ambulans.
“Kami mohon, kalau sudah pesan ambulans, usahakan ditunggu. Ambulans tiba lambat karena relawan bukan Dewa; kami butuh waktu persiapan dan perjalanan menuju titik lokasi,” keluh Bustan. Ia menekankan bahwa evakuasi dengan kendaraan terbuka tanpa fiksasi luka justru memperparah kondisi korban.
PINTU TERTUTUP di RSUD IA MOEIS
Perjuangan korban belum berakhir. Sekitar pukul 16.30 WITA, mobil yang membawa korban tiba di IGD RSUD IA Moeis, Loa Janan Ilir. Namun, harapan akan penanganan medis segera pupus. Rumah sakit milik pemerintah tersebut dikabarkan tidak sanggup menangani kondisi korban.
“Nggak bisa di Moeis,” tulis Azka dengan nada kecewa.
Tanpa adanya tindakan penanganan awal untuk menstabilkan kondisi—meski kesadaran korban mulai menurun akibat kehabisan darah—pengemudi terpaksa memacu kendaraan menuju RS Hermina. Baru pada pukul 17.17 WITA, atau lebih dari satu jam sejak kecelakaan terjadi, korban akhirnya mendapatkan tindakan medis di RS Hermina.
Kejadian ini memicu gelombang kritik dari warga dan pegiat media sosial. Nama RSUD IA Moeis menjadi sorotan tajam karena dianggap kerap menolak pasien kecelakaan dari jalur poros dengan alasan keterbatasan fasilitas atau tenaga medis.
“Apakah karena kurang tenaga medis atau fasilitas yang tidak lengkap? Kasihan relawan yang sudah jauh-jauh mengevakuasi dari Bukit Soeharto atau Loa Duri, tiba di sana langsung ditolak tanpa penanganan awal,” cetus Setia, salah satu netizen.
Rizaldy, warga lainnya, turut membandingkan penanganan di RS Hermina yang memiliki layanan bedah ortopedi dan traumatologi yang komprehensif. “Rumah sakit pemerintah seharusnya memiliki fasilitas ahli bedah umum dan ortopedi yang lengkap, apalagi posisinya di garda terdepan jalur poros yang rawan kecelakaan,” ujarnya.
Harapan besar kini tertuju pada Dinas Kesehatan Kota Samarinda. Warga mendesak agar RSUD IA Moeis segera dibenahi, baik dari sisi kelengkapan peralatan maupun kebijakan penanganan darurat. Bagaimanapun, dalam hitungan detik di meja IGD, yang dipertaruhkan bukan sekadar prosedur rujukan, melainkan nyawa manusia.



Post Comment