Kampung Tenun Samarinda Terus Pertahankan Tradisi Turun-temurun

Kampung Tenun Samarinda Terus Pertahankan Tradisi Turun-temurun

SAMARINDA – Di tengah perkembangan alat produksi yang makin modern, pengrajin di Kampung Tenun Samarinda Seberang terus mempertahankan tradisi secara tradisional dalam membuat sarung tenun demi menjaga kualitas dan nilai budaya.

Seorang pemintal benang di Rumah Tenun Rahma Dina, Harimah, mengatakan pembuatan kain tenun secara tradisional melalui tahapan yang cukup panjang, mulai dari pemilihan serat, pemintalan benang, penggulungan, pewarnaan, pencucian, pengkanjian, pengeringan, hingga penenunan motif.

“Semua masih manual menggunakan alat tenun bukan mesin,” ungkapnya, Sabtu (4/4/2026).

Ia menambahkan, sebagian pengrajin juga masih memakai bahan alami seperti daun bawang dan kayu ulin untuk pewarnaan. Meski memakan waktu lebih lama, cara itu dinilai menghasilkan warna khas.

“Pewarna alami memang prosesnya lebih lama, tapi warnanya khas dan lebih ramah lingkungan. Dari kecil saya sudah ikut membantu orang tua dalam proses ini,” katanya.

Cara tradisional itu juga terus dijaga agar tenun Samarinda tidak terputus di generasi berikutnya. Fatmawati, pemilik Rumah Sarung Tenun, mengatakan regenerasi penenun terus diupayakan agar tradisi ini tetap bertahan.

“Memang tidak mudah, tapi kami selalu menyiapkan generasi penerus. Biasanya anak-anak melihat orang tuanya menenun, lalu ikut tertarik,” ujarnya.

Ia menyebut usaha tenun yang dijalankannya juga merupakan kelanjutan dari tradisi keluarga. “Karena saya keturunan penenun, setelah orang tua meninggal saya mencoba meneruskan usaha sarung tenun ini,” tuturnya. (*/SN)

Post Comment