Dinkes Jember Catat Angka Kematian Ibu Relatif Tinggi
JEMBER – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Jember mencatat angka kematian ibu (AKI) di daerah itu masih tinggi, yakni sebanyak 10 kasus sejak Januari hingga Maret 2026, yang tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten setempat.
Sebaran angka kematian ibu tersebut berada di wilayah Puskesmas Gumukmas, Puskesmas Ledokombo, Puskesmas Mumbulsari, Puskesmas Silo 1, Puskesmas Puger, Puskesmas Gladakpakem di Kecamatan Sumbersari, Puskesmas Ajung di Kecamatan Ajung, dan Puskesmas Sukorejo di Kecamatan Bangsalsari.
“Berdasarkan data yang kami terima pada Januari sebanyak tiga kasus, Februari lima kasus, dan Maret sebanyak dua kasus,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jember Gini Wuryandari belum lama ini.
Menurutnya, sebagian besar ibu yang meninggal saat melahirkan tersebut dalam proses persalinan di rumah sakit, sedangkan yang meninggal di puskesmas hanya 1 kasus, yakni di Puskesmas Puger.
“Penyebab AKI di Jember karena komplikasi obstetri meliputi perdarahan saat persalinan, pascapersalinan, hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia/eklampsia), dan memiliki penyakit penyerta,” katanya.
Pada tahun 2024, tercatat AKI di Jember sebanyak 43 kasus dan mengalami penurunan pada 2025, yakni 27 kasus, sehingga diharapkan terus menurun angka kematian ibu pada tahun 2026.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Jember M. Zamroni mengatakan pihaknya sudah bergerak untuk menekan AKI dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Jember dengan berbagai program, salah satunya menurunkan 1.200 tenaga kesehatan ke lapangan sesuai instruksi Bupati Jember Muhammad Fawait.
“Tenaga kesehatan, penyuluh kesehatan, camat, dokter, hingga kader posyandu dilibatkan untuk bekerja bahu-membahu menuntaskan persoalan stunting, kematian ibu, dan kematian bayi di Jember,” ujarnya. (*/SN)



Post Comment