Bertaruh Hidup dari Rotan, Kisah Alex Bertahan di Tengah Minim Pasar

Bertaruh Hidup dari Rotan, Kisah Alex Bertahan di Tengah Minim Pasar

TANJUNG SELOR – Di sudut sederhana tempat usahanya, suara anyaman rotan terdengar pelan, menyatu dengan kesunyian. Dari tangan seorang perantau bernama Alex (60), bahan alam yang kerap dianggap biasa justru disulap menjadi produk bernilai jutaan rupiah. 

Dengan logat khas daerah, Alex bercerita santai tentang perjalanan usahanya. Baginya, kerajinan rotan bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga upaya memanfaatkan potensi alam yang melimpah di Kalimantan Utara.

“Ini memang pilihan saya. Kita juga mau berdayakan masyarakat. Bahan bakunya kan banyak di sini, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujarnya saat ditemui, Minggu (3/5/2026).

Di Kaltara, rotan memang mudah ditemukan. Warga biasanya menjual dalam bentuk mentah dengan harga sekitar Rp5.500 per kilogram. Namun di tangan Alex, bahan sederhana itu diolah menjadi produk bernilai tinggi.

“Kalau sudah jadi, harganya beda. Keranjang mulai Rp100 ribu, parsel Rp50 ribu. Tapi kursi bisa Rp5,5 juta sampai Rp6,5 juta,” jelasnya.

Usaha ini bukan hal baru bagi Alex. Ia mengaku telah lama berkecimpung di dunia kerajinan rotan sejak di Sulawesi. Perjalanannya berlanjut saat merantau ke Malinau, sebelum akhirnya mencoba peruntungan di Tanjung Selor.

“Di sini baru sekitar lima bulan. Masih tahap merintis,” katanya.

Namun, membangun usaha di tempat baru bukan perkara mudah. Selain belum dikenal luas, proses produksi rotan juga membutuhkan waktu panjang. Mulai dari pengeringan hingga pembelerangan, seluruh tahapan bisa memakan waktu hingga 15 hari jika cuaca mendukung.

“Kalau panas bagus, sekitar 15 hari dari setengah kering sampai siap dianyam,” ungkapnya.

Produk yang dihasilkan pun masih mempertahankan keaslian. Alex tidak menggunakan pewarna tambahan, sehingga warna alami rotan tetap menjadi ciri khas. Dalam prosesnya, ia juga memadukan bahan lain seperti kayu, rotan kulit, hingga busa dan kain untuk produk kursi.

Di balik ketekunan itu, tantangan terbesar justru ada pada pemasaran. Hingga kini, Alex masih mengandalkan penjualan langsung tanpa jaringan tetap.

“Masih jual sendiri. Belum ada langganan, belum masuk toko, online juga belum,” katanya.

Selain pemasaran, ketersediaan bahan baku juga menjadi kendala. Rotan yang ia gunakan sebagian masih didatangkan dari Malinau, sehingga kerap mengalami keterlambatan.

Meski demikian, di usianya yang telah menginjak 60 tahun, Alex tidak memiliki harapan yang muluk. Ia hanya ingin produknya dikenal dan bisa terserap pasar.

“Harapan saya sederhana, pemasaran lancar. Karena semua tergantung konsumen,” ujarnya.

Kisah Alex menjadi gambaran nyata kondisi pelaku usaha kecil di Kalimantan Utara. Di tengah melimpahnya bahan baku dan keterampilan yang dimiliki, akses pasar masih menjadi tantangan utama.

Di era digitalisasi yang kian pesat, pelaku usaha seperti Alex masih berjalan perlahan, mengandalkan ketelatenan tangan dan harapan. Dari setiap anyaman yang ia buat, tersimpan doa sederhana—agar karyanya menemukan pembeli. (*/SN)

SUMBER: KORANKALRARA

Post Comment