Kajian Kitab Syarah Sullamul Munajat & Arbaim An-Nawawi Setiap Hari Menjelang Berbuka Puasa

Kajian Kitab Syarah Sullamul Munajat & Arbaim An-Nawawi Setiap Hari Menjelang Berbuka Puasa

Oleh: Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I

Dosen STAIS Kutai Timur dan Jama’ah Mushola Ashabul Jannah

MENJELANG waktu berbuka puasa, ketika langit perlahan berubah warna dan semilir angin sore menyapa desa, suasana di Mushola Ashabul Jannah terasa berbeda. Terletak di Jalan Kamboja, Desa Margamulya, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur, mushola sederhana ini menjelma menjadi ruang belajar yang hidup dengan syiarnya.

Bukan sekadar tempat menunggu azan Magrib, tetapi menjadi majelis ilmu yang menghangatkan hati dan meneguhkan makna Ramadhan. Kajian kitab yang dilaksanakan setiap hari menjelang berbuka puasa ini diasuh oleh dua sosok yang memiliki latar belakang pesantren yang sangat kuat.

Al Ustad Abd. Adim, alumni Pondok Pesantren Bendo Kediri, membawakan kajian Syarah Sullamul Munajat, sementara Dr. Hartono, alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, mengkaji Arbain An-Nawawi. Keduanya mengaji dan mengkaji secara bergantian, menghadirkan suasana belajar yang variatif namun tetap menyatu dalam satu semangat: menghidupkan tradisi keilmuan Islam yang membumi.

Kitab Syarah Sullamul Munajat yang dikaji oleh Ustad Abd Adim sarat dengan nilai-nilai tasawuf dan pendidikan hati. Di dalamnya termuat tuntunan tentang bagaimana seorang hamba membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT melalui munajat, taubat, sabar, syukur, dan pengendalian diri. Dalam suasana puasa, pembahasan ini terasa begitu relevan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga latihan spiritual untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti riya, hasad, dan takabur.

Sementara itu, kajian Arbain An-Nawawi yang dibawakan Dr. Hartono memberikan fondasi yang kokoh dalam memahami hadis-hadis pokok ajaran Islam. Karya monumental Imam Nawawi ini memang telah lama menjadi rujukan utama dalam pendidikan Islam.

Melalui empat puluh dua hadis yang dipilih secara selektif, umat diajak memahami prinsip-prinsip dasar agama: niat, kejujuran, tanggung jawab, ukhuwah, hingga pentingnya menjaga lisan. Dalam konteks kehidupan masyarakat desa, nilai-nilai ini sangat aplikatif dan menjadi panduan konkret dalam interaksi sosial sehari-hari. Yang menarik dari kajian di Mushola Ashabul Jannah ini adalah pendekatan kontekstual yang digunakan.

Kitab tidak hanya dibaca dan diterjemahkan, tetapi juga dikaji dengan menghadirkan tamsil dan contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika membahas hadis tentang niat dalam Arbain An-Nawawi, Dr. Hartono mengaitkannya dengan aktivitas petani, pedagang, maupun aparatur desa. Bahwa bekerja di sawah, berdagang di pasar, atau melayani masyarakat dapat bernilai ibadah jika dilandasi niat yang benar dan tepat.

Begitu pula ketika Ustad Abd. Adim menjelaskan tentang pentingnya sabar dalam Syarah Sullamul Munajat, beliau mengaitkannya dengan dinamika kehidupan rumah tangga, tantangan ekonomi, hingga perbedaan pendapat dalam masyarakat. Dengan cara ini, kitab klasik yang ditulis berabad-abad lalu terasa segar dan relevan.

Jamaah tidak merasa sedang mempelajari teks yang jauh dari realitas, melainkan menemukan jawaban atas persoalan hidup mereka sendiri. Suasana kajian pun berlangsung santai, rukun, dan egalitarian. Tidak ada jarak yang kaku antara pengajar dan jamaah.

Setelah pemaparan materi, sesi tanya jawab dibuka dengan leluasa jika pertanyaan itu hadir. Jamaah baik yang tua maupun muda diberi ruang untuk menyampaikan pertanyaan, bahkan berbagi pengalaman pribadi. Dalam dialog tersebut, ilmu tidak hanya mengalir satu arah, tetapi tumbuh dalam interaksi yang hangat.

Model seperti ini mencerminkan tradisi pesantren yang inklusif dan dialogis. Ilmu tidak diposisikan sebagai menara gading, melainkan sebagai cahaya yang menerangi kehidupan bersama. Kehadiran dua alumni pesantren besar seperti Bendo Kediri dan Tebuireng Jombang menunjukkan kesinambungan sanad keilmuan.

Namun yang lebih penting adalah bagaimana sanad itu diterjemahkan dalam bahasa masyarakat Margamulya hari ini. Kajian menjelang berbuka juga memiliki makna psikologis dan spiritual tersendiri. Waktu sore di bulan Ramadhan adalah momentum kontemplatif.

Tubuh mungkin mulai lelah, tetapi hati justru lebih peka. Dalam kondisi seperti ini, nasihat dan ilmu lebih mudah meresap. Ketika azan Magrib berkumandang, jamaah tidak hanya berbuka dengan kurma dan air, tetapi juga dengan ilmu yang telah mengisi ruang batin mereka.

Di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi digital, majelis seperti ini menjadi oase. Media sosial seringkali menyajikan potongan-potongan ceramah yang belum tentu utuh konteksnya.

Sementara di mushola, kajian berlangsung sistematis, bertahap, dan penuh bimbingan. Jamaah belajar langsung dari guru, dapat bertanya, dan memperoleh klarifikasi jika ada hal yang belum dipahami. Lebih jauh, kajian kitab setiap hari menjelang berbuka puasa juga memperkuat ikatan sosial antar warga.

Mereka datang lebih awal, duduk bersama, berbagi takjil, dan merasakan kebersamaan. Ramadhan tidak hanya menjadi momentum ibadah individual, tetapi juga mempererat ukhuwah. Mushola menjadi pusat peradaban kecil di tingkat desa, tempat bertemunya nilai spiritual, intelektual, dan sosial.

Dalam pandangan saya, kegiatan ini patut diapresiasi dan dijadikan model bagi mushola atau masjid lain. Tradisi ngaji kitab tidak harus identik dengan suasana formal dan berat. Dengan pendekatan kontekstual, bahasa yang komunikatif, dan suasana yang egalitarian, kitab-kitab klasik dapat menjadi sumber inspirasi yang hidup. Yang dibutuhkan adalah komitmen, kesinambungan, dan kesediaan untuk mendekatkan teks dengan realitas.

Akhirnya, kajian kitab di Mushola Ashabul Jannah bukan sekadar rutinitas Ramadhan. Ia adalah investasi jangka Panjang, continue dalam membangun kualitas iman dan intelektualitas masyarakat. Di sanalah generasi muda belajar menghargai tradisi keilmuan, para orang tua memperdalam pemahaman agama, dan seluruh jamaah merasakan bahwa Islam hadir sebagai rahmat yang membimbing kehidupan sehari-hari.

Menjelang berbuka puasa, ketika doa-doa dipanjatkan dan hati dilunakkan oleh rasa lapar, ilmu yang dipelajari terasa semakin bermakna. Dari mushola kecil di Jalan Kamboja, cahaya pengetahuan memancar, menembus batas-batas ruang dan waktu, menghubungkan warisan ulama terdahulu dengan kebutuhan umat hari ini. Dan di sanalah, Ramadhan menemukan salah satu maknanya yang paling hakiki: kembali kepada ilmu, kembali kepada hati, dan kembali kepada Allah SWT.

Post Comment